Keraton Matan Tanjungpura Wisata Sejarah di Ketapang Kalimantan Barat

shares |

Keraton Matan Tanjungpura Wisata Sejarah di Ketapang- Kabupaten Ketapang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Jika dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di Kalimantan Barat, Kabupaten Ketapang merupakan kabupaten terluas. Kabupaten ini memiliki pantai yang memanjang dari selatan ke utara dan sebagian pantai yang merupakan muara sungai, berupa rawa-rawa terbentang mulai dari Kecamatan Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan dan Kendawangan.

Sedangkan daerah hulu umumnya berupa daerah daratan yang berbukit-bukit dan diantaranya masih merupakan hutan yang masih alami. Kabupaten ini juga dilintasi sungai besar dan panjang yang terkenal yaitu Sungai Pawan yang menghubungkan Kota Ketapang dengan Kecamatan Sandai, Nanga Tayap dan Sungai Laur serta merupakan urat nadi penghubung kegiatan ekonomi masyarakat dari desa dengan kecamatan dan kabupaten.

kerajaan matan tanjungpura kerajaan matan tanjungpura gelar festival budaya

Berbicara mengenai pariwisata di Kabupaten Ketapang juga memiliki sejarah salah satunya adalah dengan adanya sebuah kerajaan yang bisa dilihat peninggalannya sampai sekarang masih berdiri kokoh yang terkenal adalah Keraton Matan Tanjung Pura. Saat ini keraton matan Tanjung pura merupakan objek wisata bersejerah yang banyak dijadikan tujuan wisata.

Daya Tarik Keraton Matan Tanjung Pura Katapang

Dilihat dari bagunan keraton ini merupakan ciri khas bangunan melayu berwarna kuning, Keraton itu arsitektur keraton ini juga tampak unik dengan bangunan hampir keseluruhan terbuat dari kayu ulin (belian). Sampai saat ini keraton matan masih terjaga keaslian serta kebersihannya. 

Daya Tarik Keraton Matan Tanjung Pura Katapang

Pada saat libur terutama hari minggu keraton ini banyak dikunjungi wisatawan terutama masyarakat sekitar keraton. Berkunjung di Keraton ini anda dapat menjumpai berbagai peninggalan sejarah dari G.M Saunan yang sudah berumur ratusan tahun dan mempunyai legenda cerita asal muasal yang beragam, yang paling terkenal adalah meriam Padam Pelita yang konon katanya dibuat oleh mahluk halus. 

Selain itu terdapat juga peninggalan kain-kain kuno koleksi keluarga keraton seperti kain pelangi yang umurnya 40 sampai 300 tahun dan banyak lagi peninggalan-peninggalan bersejarah lainnya. Selain anda bisa menikmati kemegahan dan peninggalan-peninggalan bersejarah dari keraton matan.

Anda juga bisa bersantai di Taman yang berada persis di depan keraton yang langsung berdampingan dengan sungai terbesar di Ketapang yaitu Sungai Pawan yaitu Taman G.M Saunan yang Asri, terdapat pendopo atau pondok santai. 

Taman G.M Saunan

Sungai tersebut banyak di jadikan sebagai jalur transfortasi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. lalu lalang kapal motor yang melintas di sungai pawan menambah pemandangan menarik saat anda menyaksikan dari tepian sungai pawan yang masih masuk kawasan taman depan Keraton.

tepian sungai pawan

Di tepi sungai juga oleh pemeritah setempat sudah dibangun tempat untuk bersantai dan dipagar sepanjang sungai untuk keindahan dan juga yang utama untuk keselamatan penggunjung yang sedang menikmati pemandangan di tepian sungai Pawan, karena pengunjung taman depan keraton ini kebanyakan keluarga yang membawa anak-anak untuk bermain menikmati keindahan pemandangan di sore hari.

Sejarah Kerajan Matan Tanjung Pura Ketapang

Sejarah singkat Kerajaan/Keraton Matan ini yang sekarang berada di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, merupakan bagian dari jajaran kerajaan Melayu yang terdapat di Pulau Kalimantan. Sejarah dan asal-usul Kerajaan Matan sendiri cukup rumit karena kerajaan ini merupakan kelanjutan riwayat dari Kerajaan Tanjungpura yang kemudian melahirkan dua kerajaan turunan, yaitu Kerajaan Sukadana dan Kerajaan Matan. 

Sejarah Kerajan Matan Tanjung Pura Ketapang Akses Lokasi Keraton Matan Tanjung Pura

Oleh karena dilanda konflik internal yang berujung pada perebutan kekuasaan, Kerajaan Matan kemudian terbagi menjadi dua, yakni Kerajaan Simpang-Matan dan Kerajaan Kayong-Matan. Di sisi lain, Kerajaan Sukadana, sebagai penerus pertama Kerajaan Tanjungpura, masih tetap eksis di samping geliat dua kerajaan pecahan Kerajaan Matan tersebut. 

Kerajaan Tanjungpura sendiri pada awalnya merupakan kerajaan yang didirikan oleh Brawijaya yang berasal dari Kerajaan Majapahit di Jawa. Pada masa Brawijaya, Kerajaan Tanjungpura sempat menjadi kerajaan besar pada zaman Hindu-Buddha di bumi Borneo. Kerajaan Tanjungpura mengalami masa keemasan pada sekitar abad ke-14. Kerajaan ini adalah kerajaan tertua di Tanah Kayong. 

Nama Tanah Kayong digunakan untuk menyebut Ketapang yang terkenal sebagai tanah asal orang-orang sakti. Dari riwayat sejarah Kerajaan Tanjungpura inilah asal-usul peradaban Kerajaan Matan turut tergurat.

Sumber yang menyatakan tentang keberadaan Kerajaan Tanjungpura dapat dibaca dalam Negarakertagama karangan Mpu Prapanca pada masa Kertanegara (1268—1292) dari Singosari dan pada masa Kerajaan Majapahit dengan Sumpah Palapa Patih Mangkubumi Gajah Mada (Gusti Mhd. Mulia [ed.], 2007:1).

Ibukota Kerajaan Tanjungpura beberapa kali mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa penyebab Kerajaan Tanjungpura berpindah ibukota adalah terutama karena serangan dari kawanan perompak (bajak laut) atau dikenal sebagai “Lanon”.

Konon, di masa itu sepak-terjang gerombolan “Lanon” sangat kejam dan meresahkan penduduk. Kerajaan Tanjungpura sering beralih pusat pemerintahan adalah demi mempertahankan diri karena sering mendapat serangan dari kerajaan lain.

peninggalan sejarah dari G.M Saunan

Kerap berpindah-pindahnya ibukota Kerajaan Tanjungpura dibuktikan dengan adanya situs sejarah yang ditemukan di bekas ibukota-ibukota kerajaan tersebut. Negeri Baru di Ketapang merupakan salah satu tempat yang pernah dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Tanjungpura.

Dari Negeri Baru, ibukota Kerajaan Tanjungpura berpindah ke Sukadana. Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin (1665−1724), pusat istana bergeser lagi, kali ini ditempatkan di daerah Sungai Matan (Ansar Rahman, tt:110). 

Dari sinilah riwayat Kerajaan Matan dimulai. Seorang penulis Belanda menyebut wilayah itu sebagai Kerajaan Matan, kendati sesungguhnya nama kerajaan tersebut pada waktu itu masih bernama Kerajaan Tanjungpura (Mulia [ed.], 2007:5). Pusat pemerintahan kerajaan ini kemudian berpindah lagi yakni pada 1637 di wilayah Indra Laya.

Indra Laya adalah nama dari suatu tempat di tepian Sungai Puye, anak Sungai Pawan. Kerajaan Tanjungpura kembali beringsut ke Kartapura, kemudian ke Desa Tanjungpura, dan terakhir pindah lagi ke Muliakerta di mana Keraton Muhammad Saunan sekarang berdiri.

Nama Matan sendiri mulai digunakan pada era pemerintahan Sultan Muhammad Zainuddin yang merupakan raja pertama Kerajaan Matan. Sultan Muhammad Zainuddin, yang memiliki nama kecil Gusti Jakar Negara, adalah putra sulung dari Raja Sukadana yang terakhir, yaitu Gusti Kesuma Matan alias Gusti Mustika (1622—1665) yang juga memiliki dua anak lainnya, yakni Pangeran Agung dan Indra Mirupa atau Indra Kesuma.

Gusti Mustika sendiri merupakan Raja Matan pertama yang menggunakan gelar sultan, gelar raja yang berciri Islam, dan menyandang gelar Sultan Muhammad Syaifuddin. Agama Islam sendiri sudah masuk ke Kalimantan sejak permulaan tahun 1550 yang dibawa kaum pedagang Arab dari Palembang.

peninggalan sejarah kerajaan matan tanjungpura

Pada akhir pemerintahan Kerajaan Sukadana di bawah rezim Sultan Muhammad Syaifuddin, terjadi peperangan yang dikenal sebagai Perang Sanggau. Selain itu, pada 1622 Kerajaan Sukadana juga mendapat serangan dari Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Sultan Agung.

Tidak hanya itu, gangguan dari gerombolan bajak laut di sepanjang perairan pantai dan Selat Karimata pun semakin merajalela. Kekacauan demi kekacauan inilah yang kemudian berakibat pada runtuhnya Kerajaan Sukadana.

Agar tetap bertahan, maka pusat Kerajaan Matan dipindahkan ke wilayah yang kemudian dikenal sebagai tempat berdirinya Kerajaan Matan di bawah pimpinan putra mahkota Gusti Jakar Negara atau Sultan Muhammad Zainuddin.

Pemerintahan perdana Kerajaan Matan pertama oleh Sultan Muhammad Zainuddin ternyata tidak berjalan mulus. Ancaman justru datang dari Pangeran Agung yang berambisi untuk menggulingkan tahta kakaknya.

Untuk mengatasi ancaman perpecahan ini, Sultan Muhammad Zainuddin mendapat bantuan dari lima bersaudara asal Bugis yang datang dari Simpang ke Matan. Lima bersaudara yang terkenal dengan sebutan Daeng Menambun ini terdiri dari Opu Daeng Perani, Opu Daeng Manambon, Opu Daeng Naraweh, Opu Daeng Kemasih, dan Opu Daeng Calak (Mulia [ed.], 2007:18).

Atas pertolongan dari Daeng Menambun bersaudara, selamatlah tahta Sultan Muhammad Zainuddin dengan berhasil ditangkapnya Pangeran Agung. Setelah Sultan Muhammad Zainuddin lengser, pemerintahan Kerajaan Matan diteruskan oleh putranya yang bernama Gusti Kesuma Bandan dan bergelar Sultan Muhammad Muazzuddin yang memerintah pada kurun 1724−1738.

Sultan Muhammad Muazzuddin memiliki tiga orang putra, yaitu Gusti Bendung, Gusti Irawan, dan Gusti Muhammad Ali. Ketika Sultan Muhammad Muazzuddin wafat, ditunjuklah Gusti Bendung atau Pangeran Ratu Agung sebagai penerus tahta Kerajaan Matan dengan gelar Sultan Muhammad Tajuddin (1738−1749).

Sementara anak kedua Sultan Muhammad Muazzuddin, yaitu Gusti Irawan, menjadi raja di Kayong (Muliakerta) dengan gelar Sultan Mangkurat yang membawahi Kerajaan Kayong-Matan (sering pula disebut sebagai Kerajaan Tanjungpura II).

Pada kurun berikutnya (1749−1762), pemerintahan Matan dipegang oleh anak tertua dari Sultan Muhammad Tajuddin yaitu Sultan Ahmad Kamaluddin yang bernama asli Gusti Kencuran (Mulia [ed.], 2007:24). Terakhir, tahta kuasa Kerajaan Matan diturunkan kepada Gusti Asma yang bergelar Sultan Muhammad Jamaluddin (1762−1819).

Sultan inilah yang menjadi raja pamungkas Dinasti Matan karena setelah itu pusat pemerintahan dipindahkan ke wilayah bernama Simpang yang letaknya tidak seberapa jauh dari Matan, dan nama kerajaannya pun berubah menjadi Kerajaan Simpang atau sering pula dikenal sebagai Kerajaan Simpang-Matan, karena kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Matan.

Dengan demikian, terdapat dua kerajaan yang menyandang nama Matan, yaitu Kerajaan Simpang-Matan di bawah komando Sultan Muhammad Jamaluddin, dan Kerajaan Kayong-Matan yang dipimpin oleh Gusti Irawan atau Sultan Mangkurat.

Jika diurutkan, terdapat beberapa kerajaan yang merupakan keturunan dari Kerajaan Tanjungpura, yaitu Kerajaan Sukadana, Kerajaan Matan, Kerajaan Simpang-Matan, serta Kerajaan Kayong-Matan. Di antara kerajaan-kerajaan tersebut masih terjalin hubungan kekerabatan yang cukup erat kendati masih sering terjadi pasang surut karena beberapa sebab perselisihan dan campur tangan penjajah Belanda.(sumber: http:melayuonline.com)


Akses Lokasi Keraton Matan Tanjung Pura

Bagi anda yang berada di luar Kabupaten Ketapang dan ingin berwisata sejarah di Keraton Matan sangatlah mudah,  Alamatnya berada di desa Mulia Kerta Kec. Benua Kayong Ketapang, kurang lebih 4 km dari pusat kota. Objek wisata ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda 2 dan roda 4 sekitar 10 menit perjalanan dari kota Ketapang dengan Kondisi jalan menuju lokasi yang sudah beraspal.

Jika anda dari Pontianak ibukota provinsi kalimantan barat rutr perjalanan bisa menggunakan transfortasi udara dari Bandara Supadio Pontianak kalbar melakukan penerbangan menuju Bandar Udara Rahadi Oesman Ketapang baru kemudian di lanjutkan pasar Ketapang menggunakan taksi dilanjutkan menuju ketaron matan dengan melewati Jembatan pawan.

Setelah itu baru sampai pada gerbang yang menandakan memasuki area keraton. Sebelum melewati Keraton terdapat 2 Gapura, Sebelum melewati Keraton dan sesudah melewati Keraton. Gapura ini juga bewarna kuning dengan atap yang terbuat dari kayu. Baca juga: Amplang Kerupuk Tenggiri Khas Kota Ketapang.

Related Posts