Taman Nasional Way Kambas Menjadi Warisan ASEAN

Taman Nasional Way Kambas Menjadi Warisan ASEAN

Diposting pada

Taman Naional Way Kambas berada di Kabupaten Lampung Timur, saat ini sudah resmi ditetapkan menjadi warisan taman warisan ASEAN  atau ASEAN Heritage Park (AHP) ke-36, Rabu, 27/7/2016. Peresmian Taman Nasional Way Kambas (TNWK ) menjadi Asean Heritage (AHP) dihadiri langsung oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Tohir Fatoni, Wagub Lampung Bachtiar Basri, delegasi 10 negara asean dan Bupati Pandeglang.

PenetapannTNWK  sebagai AHP dilakukan melalui sidang Ministerial Meeting On The Eenviroment (AMME), pada tanggal 28 Oktober 2015, di Hanoi, Vietnam. Dalam sambutanya, Bachtiar Basri mengatakan, dengan diresmikanya TNWK menjadi AHP merupakan penghargaan tinggi bagi Indonesia memiliki wilayah konservasi di Asean.

Sebelumnya juga telah ditetapkan tiga tempat di indonesia menjadi AHP yaitu Taman Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat  dan Taman Nasional Lorent. “TNWK kini bukan hanya jadi tanggung jawab Provinsi Lampung maupun Indonesia tapi juga seluruh negara negara Asean,” ujar Wagub.

Sementara itu Tohir Fatoni mengatakan, ditetapkanya TNWK sebagai AHP karena memiliki areal yang unik. Dengan keunggulan kelestarian alam dan arealnya dijaga dengan baik. Keunggulanya Taman Nasional Way Kambas adalah memiliki  spsies besar yaitu gajah, badak. Serta beberapa spesies lainya seperti tapir dan siamang yang termasuk dalam kategori hewan langka.

Taman Nasional Way Kambas Ditetapkan Jadi Taman Warisan ASEAN

Taman Nasional Way Kambas Menjadi Warisan ASEAN

Penetapan kawasan konservasi menjadi Taman Warisan ASEAN merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kawasan di wilayah ASEAN yang dikenal dengan keanekaragaman hayati dan nilai ekosistemnya yang tinggi. Dalam acara pembukaan pertemuan ASEAN Heritage Park Committee V, di Bandarlampung, Senin (25/7).

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Sutono mengatakan, penetapan Taman Nasional Way Kambas sebagai Taman Warisan ASEAN akan menjadi komitmen bersama dengan Komisi ASEAN Heritage Park untuk terus memelihara proses ekologis dan sistem pendukung kehidupan.

Di samping itu juga untuk memastikan pemanfaatan spesies dan ekosistem secara berkelanjutan, melestarikan keragaman genetik, menjaga keindahan alam, budaya, dan mendukung pendidikan, penelitian, serta pariwisata di TNWK. “Tujuannya, agar pengelolaan kawasan lestari dapat memberikan manfaat yang optimal, tidak hanya manfaat ekologis, tetapi juga sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan,” ujar Sutono seperti dikutip dari Antara, Selasa (26/7).

Taman Nasional Way Kambas menempati lahan seluas 1.300 km persegi dari hutan dataran rendah pantai sekitar Sungai Way Kambas di timur Provinsi Lampung. selain terdapat pusat konservasi gajah. Di TNWK juga terdapat Suaka Rhino Sumatera (SRS) yang merupakan satu-satunya lokasi tempat pengembangbiakan badak Sumatera secara semi alami di Asia atau dunia.

Selain Taman Nasional Way Kambas di Lampung, terdapat tiga Taman Warisan ASEAN lain di Indonesia, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (Sumatera Utara dan Aceh), Taman Nasional Lorentz (Papua) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Utara).

Sejarah Taman Nasional Way Kambas

Taman Nasional Way Kambas Menjadi Warisan ASEAN

Sejarah Taman Nasional Way Kambas adalah satu dari dua kawasan konservasi. Berbentuk taman nasional di Propinsi Lampung selain Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 670/Kpts-II/1999 tanggal 26 Agustus 1999, kawasan TNWK mempunyai luas lebih kurang 125,631.31 ha.

Secara gaeografis Taman Nasional Way Kambas terletak antara 40°37’ – 50°16’ Lintang Selatan dan antara 105°33’ – 105°54’ Bujur Timur. Berada di bagian tenggara Pulau Sumatera di wilayah Propinsi Lampung. Pada tahun 1924 kawasan hutan Way Kambas dan Cabang disisihkan sebagai daerah hutan lindung, bersama-sama dengan beberapa daerah hutan yang tergabung didalamnya.

Berdasarkan sejarah Pendirian kawasan pelestarian alam Way Kambas dimulai sejak tahun 1936 oleh Resident Lampung, Mr. Rookmaker. Dan disusul dengan Surat Keputusan Gubernur Belanda tanggal 26 Januari 1937 Stbl 1937 Nomor 38. Pada tahun 1978 Suaka Margasatwa Way Kambas diubah menjadi Kawasan Pelestarian Alam (KPA).

Oleh Menteri Pertanian dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 429/Kpts-7/1978 tanggal 10 Juli 1978 dan dikelola oleh Sub Balai Kawasan Pelestarian Alam (SBKPA). Kawasan Pelestarian Alam diubah menjadi Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) yang dikelola oleh SBKSDA dengan luas 130,000 ha. Pada tahun 1985 dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 177/Kpts-II/1985 tanggal 12 Oktober 1985.

Pada tanggal 1 April 1989 bertepatan dengan Pekan Konservasi Nasional di Kaliurang Yogyakarta. Dideklarasikan sebagai Kawasan Taman Nasional Way Kambas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 444/Menhut-II/1989 tanggal 1 April 1989 dengan luas 130,000 ha. Kemudian pada tahun 1991. Atas dasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 144/Kpts/II/1991 tanggal 13 Maret 1991 dinyatakan sebagai Taman Nasional Way Kambas.

Dimana pengelolaannya oleh Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Way Kambas. Bertanggungjawab langsung kepada Balai Konsevasi Sumber Daya Alam II Tanjung Karang. Dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 185/Kpts-II/1997 tanggal 13 maret 1997. Dimana Sub Balai Konsevasi Sumber Daya Alam Way Kambas dinyatakan sebagai Balai Taman Nasional Way Kambas.

Taman Nasional Way Kambas Kawasan Pelestarian Alam

Sejarah Alasan ditetapkannya kawasan tersebut sebagai kawasan pelestarian alam, adalah untuk melindungi kawasan yang kaya akan berbagai satwa liar. Diantaranya adalah tapir (Tapirus indicus). Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus). Enam jenis primata, rusa sambar (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak), harimau Sumatera (Panthera tigris), beruang madu. Badak Sumatera pada saat itu belum ditemukan. Sehingga bukan sebagai salah satu pertimbangan yang dipergunakan sebagai dasar penetapannya.

Namun demikian, setelah ditetapkannya sebagai kawasan suaka margasatwa hampir selama dua puluh tahun. Terutama pada periode 1968 – 1974, kawasan ini mengalami kerusakan habitat cukup berat. Yaitu ketika kawasan ini dibuka untuk Hak Pengusahaan Hutan, kawasan ini beserta segala isinya termasuk satwa, banyak mengalami kerusakan.

Dari jenis satwa tersebut, sampai dengan saat ini keberadaannya masih terjaga dengan baik. Antara lain yang dikenal dengan The Big Five mammals yaitu tapir (Tapirus indicus). Gajah Sumatera (Elephant maximus sumatranus), harimau Sumatera (Panthera tigris). Badak Sumatera (Diserohinus sumatranus) dan beruang madu (Helarctos malayanus).

Gambar Gravatar
"Serius dalam menjalani hidup harus di buktikan dengan fokus mengerjakan sesuatu tanpa harus menyerah saat gagal"

0 thoughts on “Taman Nasional Way Kambas Menjadi Warisan ASEAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *